Tips Murah Bermalam di Gili Trawangan

Camping Ceria di Gili Trawangan Lombok

2
Camping di Gili Trawangan

Pulau Lombok merupakan salah satu gudangnya wisata alam. Mulai dari pantai, air terjun, perbukitan, hingga ke puncak gunung. Destinasi saya kali ini adalah Gili Trawangan dan berencana camping ceria di sana. Kalau tempat dugem di sana aja outdoor, kenapa tidak menginap outdoor sekalian? Hahaa

Karena Gili yang satu ini sudah sangat terkenal, kami menghindari weekend untuk datang ke sana. Dan hari Senin yang kami pilih untuk berangkat ke sana. Siang hari sekitar jam 1, setelah mengerjakan revisi dari klien kami berangkat. Sambil nunggu feedback (baca: revisi lanjutan) dari si klien, saya tinggal ngecamp dulu dah, begitu pikirku. Hahaa

Perlengkapan kemah yang kami bawa meliputi tenda, kompor gas kecil, 1 set panci kecil, sleeping bag, tanpa matras karena alas tenda di atas pasir pantai akan terasa sangat nyaman. Semua peralatan tersebut sudah saya siapkan dari Semarang, yang juga kami fungsikan untuk peralatan masak kami sehari-hari selama stay di Lombok. Untuk kompor gas kecil saya membelinya di Mataram, ada 3 toko adventure di Jl. Panca Usaha Mataram, yaitu Eiger dan Petualang bersebelahan, maju dikit ada Consina.

Lanjut berangkat. Untuk menyeberang ke Gili Trawangan dengan murah kita harus menggunakan public boat di pelabuhan Bangsal. Kalau mau yang mahal dan lebih cepat kita bisa naik speed boat dari Senggigi atau Teluk Nara. Rute untuk menuju ke pelabuhan Bangsal ada 2, yang biasa dilalui adalah jalan raya sisi barat Lombok. Melalui rute ini, sepanjang perjalanan dari Mataram menuju Bangsal pemandangannya sangat cantik. Di sebelah kanan berjejer perbukitan dan di sebelah kiri adalah biru laut dengan hamparan pasir putih di sepanjang pantainya.

Pemandangan Jalan Sisi Barat Lombok
Pemandangan dari jalan raya di sisi barat Lombok. Cantik kan?

Selain rute tersebut bisa juga lewat hutan Pusuk, dimana kita melalui jalanan berkelok yang kanan kirinya hutan dan ratusan monyet pada nongkrong di pinggir jalan.

Saat itu rute yang kami lalui adalah rute sebelah barat. Perjalanan dari Mataram ke pelabuhan Bangsal membutuhkan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Di tengah perjalanan kami mampir makan di seputaran Malimbu. Dan kami sampai di pelabuhan Bangsal jam 3 sore. Kami memarkirkan motor di salah satu perkiran sebelum masuk pelabuhan Bangsal. Di sini banyak sekali rumah yang membuka jasa parkir inap dengan tarif 5 ribu saja.

Dari parkiran kami berjalan lurus kemudian belok kiri untuk menuju loket. Jadwal penyeberangan menuju Gili Trawangan buka sampai jam 5 sore. Harga tiket kapal menuju Gili Trawangan adalah 15 ribu ditambah tarif masuk 4.500 rupiah. Kapal akan berangkat setiap kuota 40 orang terpenuhi. Nggak lama kok nunggu kapal untuk menuju Trawangan. Nggak sampai setengah jam menunggu, kapal pun berangkat. Oiya, tiap satu kapal tiketnya dibedakan berdasarkan warna, ada putih, merah, dan kuning. Jadi perlu untuk mendengarkan baik-baik info dari pengeras suara di sana.

Penyeberangan ke Gili Islands
Kapal meninggalkan Pulau Lombok

Jadwal lain selain menuju Trawangan adalah menuju Gili Meno dan Gili Air yang sehari hanya dua kali berangkat yaitu jam 9 pagi dan jam 3 sore. Kapal tetap berangkat berapa pun kuotanya.

Dari Bangsal ke Trawangan memerlukan waktu tempuh sekitar setengah jam. Hari itu menjelang Idul Adha, kapal yang kami naiki juga ngangkut 2 ekor kambing. Wkwkwk… Seneng tuh cewek bule Spanyol ngelus-ngelus kambing!

Tiba di Gili Trawangan

Gili Trawangan Lombok

Kami tiba di Gili Trawangan hampir jam 4 sore. Jadi total waktu perjalanan dari Mataram menuju Gili Trawangan tidak sampai 3 jam. Di gili ini populasi turis bule sangat mendominasi. Sangat sedikit kami menjumpai turis lokal. Di sini banyak terdapat rental sepeda dengan tarif mulai 50 ribu perhari tergantung jenis sepedanya. Sewa sepeda di sini hanya mengisi buku catatan saja tanpa perlu meninggalkan jaminan kartu ID. Sore itu kami bersepeda mengelilingi pulau sambil survei lokasi untuk camping. Agak susah mencari lokasi untuk gelar tenda. Sepanjang area pantai didominasi oleh resto-resto. Kami terus bersepeda mengelilingi pulau. Kata banyak blogger yang saya baca, di sini tidak ada kendaraan bermotor. Nyatanya kami bertemu satu penduduk setempat yang mengendarai motor. Tepatnya di area dalam pemukiman.

Ketika muter-muter dalam pemukiman, kami sempat beberapa kali mencari penginapan. Lah nggak jadi camping? Kami agak ragu untuk buka tenda di pantai sini. Nggak ada pantai luas yang bebas dari kafe dan resto. Dan syukurlah kami mendapati penginapan-penginapan yang saya rasa overprice. Lebih baik booking online kalo mau nginep di sini daripada datang langsung malah ‘keblondrok’.

Senja di Gili Trawangan
Suasana senja di dalam pemukiman Gili Trawangan

Setelah itu kami pun memutuskan untuk camping saja di area yang banyak pepohonan.
Sebelum gelar tenda kami sempatkan untuk mampir ke masjid, persiapan pipis yang banyak biar nanti kalo pas camping nggak bolak balik untuk ke toilet masjid. Hahaa..

Malam hari kami habiskan untuk bersantai di depan tenda sambil makan malam dan ngemil. Di kejauhan terdengar suara jedag-jedug dari kafe-kafe sepanjang jalan Trawangan. Pukul sepuluh kami sudah mulai mengantuk karena kecapekan tadi sore sepedaan keliling pulau ditambah angin pantai yang sepoi-sepoi. 😀

Tengah malam kami terbangun karena suara deburan ombak yang sangat kencang. Saya cek keluar, ternyata air laut mulai pasang. Seperti biasa kalau camping di pantai ya begini rewelnya. Saya pun bergegas menarik tenda menjauh dari pantai, menuju area di bawah pohon-pohon. Aman dah. Hati tenang, tidurpun berlanjut.

Pagi hari, tujuan pertama adalah toilet masjid. Toilet umum yang bersih di sini ya di masjid dibanding dengan yang ada di pasar maupun loket public boat. Setelah dari masjid kami nyari sarapan sambil jalan-jalan pagi. Sepeda kami tinggal di dekat tenda dengan posisi tergembok di pepohonan.

Suasana Gili Trawangan
Jalan-jalan pagi di Trawangan. Kalo weekend bakal macet manusia + cidomo + sepeda

Meskipun di sepanjang jalan Trawangan ini penuh dengan kafe dan resto, namun kami beberapa kali berpapasan dengan ibu-ibu penjual nasi bungkus maupun nasi kotak. Kami pun memilih ibu penjual yang ngetem di depan toko yang menjual Macramé, menu makan pagi kami saat itu nasi kotak berisi nasi balap namun dengan tambahan ayam gelondongan.

Suasana Gili Trawangan
Di seberang toko ini tempat ibu penjual nasi balap ngetem

Nasi balap atau balap puyung merupakan makanan khas Lombok yang berisi nasi dengan daging ayam suwir bumbu pedas, ditambah kedelai goreng, sambal, dan sayur lalap. Harga nasi balap porsi jumbo ini 20 ribu, jauh lebih murah dibanding kafe atau resto yang menunya western-western itu. Nikmat banget makan nasi balap ini di pinggir pantai, gelar kain yang saya beli di desa Sade, tak lupa cemilan selalu menemani. 😀

Kemah di Gili Trawangan

Selesai sarapan, kami kembali ke area dekat tenda kami. Di sini mulai ramai bule-bule pada berjemur. Kami tetep ngadem. Hingga akhirnya pukul 11 siang kami bongkar tenda dan packing. Tampak tak jauh dari tenda kami ada rombongan yang sepertinya juga mau camping di area sini. Posisi mereka di dekat sepeda kami tertambat. Packing pun selesai. Kami mengambil sepeda. Ternyata rombongan tadi dari Jogja. Ada 2 tenda masih dalam keadaan tergulung di dalam tas tenda. Dan mereka bawa pancing! Mantap…

Setelah mengembalikan sepeda, kami pun menuju ke loket public boat. Tak lama kapal pun mengantar kami kembali ke Bangsal.

Lokasi pelabuhan Bangsal

Harga Tiket Kapal Menuju Gili dan Jadwal Penyeberangannya

Bangsal – Trawangan = Rp 15.000; dari pukul 8 s/d pukul 17
Bangsal – Meno = Rp 14.000; pukul 9 dan pukul 14
Bangsal – Air = Rp 13.000; pukul 8 dan pukul 11

Info Lain
Tarif sewa motor di Mataram mulai Rp 50 ribu – Rp 70 ribu perhari.
Selain camping, bisa juga kalo mau sekedar tidur pakai hammock, pastinya lebih praktis. Seorang backpacker dari Jakarta yang kami temui di Rumah Singgah bercerita bahwa dulu dia pernah nginep di Trawangan dengan modal hammock. Dia nggantungin hammock-nya di pepohonan di sisi barat Trawangan, yang kalo sore bisa lihat sunset di situ. Nggak perlu takut gelap dan sepi, di gili ini selalu rame orang bersliweran meskipun sudah tengah malam.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − twelve =