Eksplorasi Adat dan Budaya Toraja di Desa Wisata Kete Kesu

Catatan Perjalanan Trip ke Toraja

Kompleks Rumah Tongkonan di Kete Kesu, Toraja Utara. (foto: Nasir Udin)

Jika berbicara tentang Tana Toraja, pasti yang terlintas di benak kita adalah rumah panggung besar dengan atap melengkung seperti perahu. Rumah Tongkonan! Yay!

Akhir bulan Desember lalu, saya berkunjung ke Toraja, tepat pada saat diselenggarakannya event tahunan Tana Toraja, Lovely December 2017. Festival ini berjalan selama satu bulan penuh dengan berbagai macam agenda budaya.

Tana Toraja merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masih kental akan budaya. Rumah tradisional, tarian tradisional, hingga upacara pemakaman yang sangat unik dan telah dikenal secara internasional. Dan satu hal lagi, kerbau belang di sini harganya bisa setara dengan mobil mewah. Yup, miliaran rupiah!

Selain kebudayaan, keindahan alam Toraja juga sangat memanjakan mata karena letaknya di daerah dataran tinggi. Dan karena itulah suhu udara di sini terasa dingin. Jadi kalau kamu akan travelling ke Toraja, siapkan baju hangatmu ya, guys!

Mengeksplorasi Adat & Budaya Tana Toraja di Kete’ Kesu

Desa Adat Kete Kesu Toraja
Desa Adat Kete Kesu, Toraja. (Foto: Nasir Udin)

Tujuan pertama saya dalam trip kali ini adalah kompleks rumah tongkonan kuno di Kete’ Kesu, sebuah desa adat di Toraja yang letaknya tak jauh dari pusat kota Rantepao.

Desa yang terletak di Pantanakan Lolo, kecamatan Kesu, Toraja Utara ini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan cagar budaya. Potret adat, budaya, tempat pemakaman, arsitektur, kerajinan, dan pola hidup masyarakat Toraja bisa ditemukan di sini.

Di desa adat Kete’ Kesu ini saya ingin melihat barisan rumah tongkonan yang telah berusia ratusan tahun. Kondisi bangunan masih asli warisan leluhur, dengan atap sabut dan ditumbuhi rerumputan. Berbeda dengan tongkonan-tongkonan modern di kota yang sudah beratap genteng.

Motif ukiran kayu di dinding rumah Tongkonan
Motif ukiran kayu di dinding rumah Tongkonan. (Foto: Nasir Udin)

Di depan tongkonan tergantung susunan tanduk-tanduk kerbau. Semakin banyak dan tinggi susunan tanduk kerbau, berarti semakin banyak pula pesta yang telah diadakan dan semakin tinggi pula strata sosial orang tersebut. Ornamen ukiran khas Toraja pun menghiasi bangunan ini. Tak lupa ada juga patung kepala kerbau.

Di bagian mendekati ujung terdapat museum Toraja. Namun sayangnya waktu itu masih tutup, jadi saya tidak bisa masuk. Tongkonan di sini sudah tidak ditinggali, namun masih dirawat oleh ahli warisnya. Terkadang juga dijadikan tempat pertemuan dan upacara adat Rambu Solo’.

Setelah melihat-lihat Tongkonan, saatnya menuju ke kubur batu atau kubur tebing. Di Kete’ Kesu’ ini kita tak hanya disajikan Tongkonan saja, namun kita juga bisa berwisata makam khas Toraja. Saya cukup mengikuti petunjuk arah, dan setelah melewati toko-toko souvenir sampailah saya di area pemakaman.

Area pemakaman di sini ada dua jenis. Yang pertama saya lewati adalah rumah makam modern atau yang disebut Patane. Ada beberapa makam yang ada di sini. Pemakaman ini berupa bangunan kecil dimana jenazah satu keluarga berada di dalamnya.

Setelah melewati area Patane, saya mulai menaiki tangga di pinggir tebing. Di sepanjang jalan inilah terletak kubur tebing. Jenazah dan peti-peti kayu kuno terhampar di tebing ini. Ada yang digantung di tebing, ada pula yang dimasukkan ke cerukan batu atau disebut erong.

Kubur Batu Kete Kesu Toraja
Peti-peti kuno di makam tebing Kete Kesu, Toraja. Di area bawah nampak beberapa Patane. (Foto: Nasir Udin)

Semakin tinggi status sosial seseorang, maka semakin tinggi pula tempat ia dimakamkan. Selain itu terdapat boneka-boneka leluhur yang terbuat dari kayu yang diletakkan di dalam cerukan tebing dan dipagari besi untuk mencegah pencurian. Sebelumnya pernah terjadi pencurian harta senilai satu miliar di makam Toraja.

Sampailah saya di ujung dari jalan di tebing ini dan bertemu dengan goa yang tidak begitu dalam. Untuk memasukinya, saya dipandu oleh seorang anak lokal yang juga menyewakan senter. Dan ternyata di goa ini juga digunakan untuk pemakaman. Namun jumlahnya tidak sebanyak yang terdapat di luar tadi.

Selesai eksplorasi, tujuan terakhir adalah belanja. Yup, ketika tadi melewati deretan toko souvenir, mata saya sudah tertarik dengan ukiran kayu di berbagai macam benda. Motif ukiran geometris khas Tana Toraja memang manis untuk diaplikasikan berbagai media. Pewarna kayunya pun alami.

Aneka Kerajinan Khas Toraja
Aneka kerajinan kayu khas Toraja. (Foto: Nasir Udin)

“Kerajinan kayu di sini semua hasil ukiran kakek saya,” ujar ibu penjual kepada saya. “Pewarna yang dipakai alami, jadi bisa awet menempel di kayu,” lanjutnya. Seingat saya dari penuturan ibu tersebut, warna merah, kuning, dan hitam didapat dari olahan tanah lempung, sedangkan untuk warna putih berasal dari olahan tumbuhan.

Berkenalan Dengan Kerbau Belang di Istana Saleko

Istana Saleko Toraja
Istana Saleko, Toraja. (Foto: Nasir Udin)

Keluar dari kompleks Kete’Kesu, ada seseorang yang menawarkan untuk mengunjungi Istana Saleko yang letaknya berada di sebelah kompleks Kete Kesu. Istana Saleko ini bisa disebut museum kerbau yang merupakan tempat dimana kamu bisa bertemu dengan kerbau belang secara live.

Di Istana Saleko saat itu terdapat tiga jenis kerbau. Satu jenis kerbau putih (tedong bulan), satu kerbau belang (tedong bonga), dan satu lagi kerbau belang sempurna (tedong saleko).

Kerbau belang di sini harganya bisa miliaran. Tedong Saleko yang ada di sini harganya bisa dipatok satu miliar lebih. Harga mahal ini juga yang menjadi salah satu sebab mengapa orang Toraja yang sudah meninggal bisa menunggu lama untuk dimakamkan. Bahkan bisa menunggu belasan tahun baru dimakamkan.

Kerbau yang digunakan untuk berkurban dalam upacara pemakaman berjumlah 24 hingga ratusan ekor. Menurut keyakinan Toraja, semakin banyak kerbau yang dikurbankan, maka semakin cepat pula arwah orang yang meninggal untuk mencapai puya atau kehidupan selanjutnya.

Berbincang dengan ibu pemandu di Istana Saleko
Berbincang dengan ibu pemandu di Istana Saleko. (Foto: Nasir Udin)

Nah, setelah puas ngobrol dengan ibu pemandu dan bapak pengasuh tedong atau pakkampi, saatnya lanjut ke destinasi wisata Toraja lainnya.

How to Get There

Saya berangkat dari Makassar pada malam hari menggunakan bus Litha yang tiketnya sudah saya beli sehari sebelumnya. Pertimbangan saya naik bus ini karena pool keberangkatan bus letaknya di dekat kost saya, di daerah Panakkukang. Dan saat itu adalah hari terakhir saya long stay satu bulan di Makassar. Jadi begitu cabut dari kost, saya langsung kabur ke Toraja.

Perjalanan malam dari Makassar dimulai dari pukul 22.30 (padahal yang tertulis di jadwalnya adalah 22.00). Dan di jam segitu ternyata Makassar masih macet. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 8-10 jam, tapi nggak perlu khawatir karena semua bus jurusan Makassar – Toraja PP menggunakan tempat duduk yang nyaman. Kaki bisa selonjoran karena jarak antar baris kursi sangat luas dan ada penyangga kakinya.

Pagi hari sampailah saya di Enrekang, sebuah kabupaten sebelum Tana Toraja. Di sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang sangat eksotis dengan bentangan bukit-bukit yang luas tersinari mentari pagi. Untuk kalian yang membawa kendaraan pribadi bisa berhenti dulu sambil ngopi di sini pasti bahagia. Hahaha

Bus tiba di Rantepao, ibukota Toraja Utara, sekitar pukul delapan pagi. Turunlah di sekitar bundaran yang ada tongkonannya. Jangan seperti saya yang turunnya jauh sampai ke perhentian terakhir. Hahaha. Setelah sarapan, saya berjalan mencari penginapan di seputaran lapangan merdeka, alun-alun Rantepao, dimana Festival Lovely December diadakan. Wisma Maria I, yang sudah terkenal di Lonely Planet, menjadi tempat saya menginap.

Tips ketika kamu menginap di Toraja, pilihlah tipe kamar yang menyediakan air hangat karena di sini airnya sangat dingin. Selain itu pilih juga penginapan yang sekaligus menyewakan sepeda motor. Di Wisma Maria ini juga menyewakan sepeda motor, sayangnya waktu itu saya kehabisan stok, jadi perlu mencari sewa motor di tempat lain yang berada di seputar lapangan sampai ke jalan raya utama.

Catatan Tambahan

  • Tarif bus Makassar – Rantepao: Rp 160 ribu naik bus Litha. Ketika pulang saya naik bus Primadona dengan harga yang sama, namun lebih nyaman karena jumlah seat lebih sedikit.
  • Tarif Wisma Maria: Rp 145 ribu – Rp 250 ribu per malam (tergantung tipe kamar).
  • Sewa sepeda motor: Rp 120-160 ribu per hari (iya mahal kalo dibandingin Jogja, Bali, dan Lombok).
  • Harga tiket masuk Kete Kesu: Rp 10 ribu per orang.
  • Sewa senter di goa tebing Kete Kesu: Rp 25 ribu, tarif pemandu seiklasnya.
  • Harga tiket masuk Istana Saleko: Rp 10 ribu per orang.

Lokasi Kete Kesu – Toraja Utara

Oke, cerita kali ini cukup di satu lokasi ini dulu ya, guys. Catatan perjalanan saya di Toraja ini akan saya lanjut di part selanjutnya. Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 + seven =